Ditulis oleh alasyjaaripb di/pada 15 Mei 2008
Pendahuluan
Peristiwa ledakan bom di gedung WTC, 11 September 2001 yang lalu cukup memberikan pengaruh pada situasi politik internasional belakangan ini. Ditandai dengan serangan besar-besaran oleh Amerika Serikat terhadap Afghanistan yang pada akhirnya menumbangkan pemerintahan Taliban. Tidak berhenti sampai di sana Amerika Serikat mencanangkan Perang Salib melawan terorisme yang disebutnya sebagai setan-setan. Negeri Paman Sam itu, kemudian memberikan dua pilihan kepada dunia: ikut AS melawan terorisme atau (kalau tidak) menjadi pendukung terorisme.Menyusul setelah ledakan WTC ini Presiden AS berpidato: “America and our friends and allies join with all those who want peace and security in this word, and we stand together to win the war againts terrorism”(Amerika dan sahabat berikut aliansi kami akan bergabung dengan semua pihak yang menginginkan perdamaian dan keamanan di dunia ini dan kita akan bersama-sama berdiri melawan dan memenangkan peperangan terhadap terorisme). Urusan mengganyang terorisme ini kemudian menjadi urusan bersama dunia. Tak pelak lagi, hampir seluruh pemimpin seluruh dunia tunduk kepada tuntutan Amerika Serikat, termasuk penguasa di negeri-negeri Islam. Perang melawan terorisme ini telah menjadi kebijakan politik luar negeri AS yang dominan sekarang ini.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Khilafah | Leave a Comment »
Ditulis oleh alasyjaaripb di/pada 15 Mei 2008
PERNYATAAN
MT AL ASYJAAR FAHUTAN IPB
“Menolak Kenaikan BBM 2008”
Akhirnya harga BBM dipastikan naik lagi. Keputusan ini disampaikan Pemerintah melalui Menko Ekonomi Boediono usai rapat terbatas di Kantor Presiden hari Senin (5/5) lalu. Padahal sehari sebelumnya Presiden SBY, dalam acara Milad 10 PKS, sepakat untuk tidak terlalu cepat menaikkan harga BBM. Kebijakan menaikkan BBM katanya adalah langkah terakhir (Kompas, 5/5). Faktanya, “langkah terakhir” inilah yang justru dengan cepat ditempuh oleh Pemerintah.
Alasan utamanya, sebagaimana berkali-kali diungkap Pemerintah, adalah tekanan yang semakin berat terhadap APBN 2008 akibat terus membengkaknya apa yang disebut subsidi BBM sebagai dampak langsung dari terus meroketnya harga BBM di pasaran internasional yang telah menembus angka US$ 120 perbarel. Berkaitan dengan hal itu, maka MT Al Asyjaar Fahutan IPB menilai:
Alasan besarnya subsidi, yang berulang kali disebut oleh pejabat pemerintah sebanyak lebih dari Rp 200 triliun dan akan menjadi lebih Rp 300 triliun bila BBM tidak segera dinaikkan patut dipertanyakan. Alasan itu baru benar bila seluruh minyak mentah diimpor dari luar negeri. Faktanya, Indonesia masih memproduksi 910 ribu barrel minyak mentah setiap hari. Memang, produksi dalam negeri sebanyak itu tidak mencukupi, karenanya harus diimpor. Nah, mestinya, subsidi itu dihitung dari jumlah minyak mentah yang diimpor itu. Mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menyebut, bila perhitungan dilakukan dengan benar, pemerintah sesungguhnya malah mendapatkan kelebihan uang tunai. Yakni selisih antara harga jual BBM di dalam negeri dengan besarnya subsidi dari minyak mentah impor. Besarnya diperkirakan mencapai Rp 35 triliun. Kemana dana sebesar ini? Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Pernyataan Sikap | 1 Komentar »