Oleh : Layyina Ridwan*
Syariah Publications. Lala (bukan nama sebenarnya), mahasiswi yang cantik, ramah, dan supel. Ia selalu berpenampilan modis dan seksi. Banyak mahasiswa yang jatuh cinta kepadanya. Tiba-tiba, pada hari itu terjadi perubahan yang sangat mengejutkan seluruh teman-teman dan warga kampusnya. Lala menanggalkan semua baju-baju seksinya. Sebagai gantinya, ia memakai baju yang menutup rapat seluruh auratnya. Ia tampil kalem. Kampus pun menjadi geger. “Lala berjilbab”, begitu ucapan orang-orang yang melihatnya. Tidak diketahui, berapa banyak mahasiswa yang kecewa karena tidak lagi mempunyai kesempatan melihat body Lala yang seksi. Orang-orang terkejut, namun tidak semua orang mengetahui alasan Lala mengubah penampilannya itu. Selama satu minggu itu, Lala menjadi bahan pertanyaan warga kampus yang terheran-heran dengan perubahan sikapnya.
Bukan Lala jika tidak membuat geger. Hari ini, tepat satu minggu setelah ia berkerudung. Ia mendadak membuat sensasi lagi. Ia tanggalkan baju muslimahnya. Ia ganti dengan baju-bajunya yang seksi. Lagi-lagi, warga kampus dibuat bingung dengan ulahnya.
Selidik punya selidik, ternyata ada alasan dibalik kejadian ini. Lala memutuskan memakai kerudung karena simpati pada seorang muslimah yang berjilbab. Dalam pandangannya, wanita yang berjilbab itu tampak anggun, tenang, dan nyaman dipandang. Terpanggillah hati Lala untuk mengikuti jejak mulia wanita itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera membeli kerudung dan mencari pakaian yang agak longgar. Ucapan selamat pun disampaikan kepadanya.
Lantas, mengapa ia melepas kembali kerudungnya selang seminggu kemudian? Ternyata, Lala tidak mendapatkan hal yang ia kira. Ia tidak mendapatkan ketenangan dan rasa aman, tetapi justru kalimat negatif yang diterimanya. Banyak orang mengatakan kalau Lala kelihatan tua dengan baju muslimah itu. Lala lebih cantik jika seperti dulu, menampilkan rambut indahnya yang hitam panjang. Bahkan, ada orang yang mengatakan Lala kuno dan tidak gaul. Lala tidak tahan mendengar cemoohan itu. Pendiriannya menjadi goyah. Akhirnya, ia tanggalkan baju muslimahnya.
Kejadian di atas terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika jilbab belum populer, khususnya di kampus yang diceritakan tersebut. Pada masa itu, jilbab masih dianggap langka dan aneh.
Dari peristiwa di atas, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Perbuatan seseorang seharusnya selalu dikaitkan dengan dua hal. Dua hal ini harus ada agar perbuatan seseorang menjadi ihsanul amal (perbuatan baik) sehingga berpahala dan diterima Allah SWT. Dua hal tersebut adalah :
Pertama, niat yang lurus. Innamal a’malu binniyat. Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya (Al Hadis). Semua perbuatan kita niatkan itu hanya karena Allah, hanya mengharapkan keridloanNya. Bukan karena ingin dipuji manusia atau sekedar mengikuti mode. Berbeda niat, berbeda pula hasilnya. Apabila niat Lala lurus karena Allah, tentu ia akan lebih tegar walaupun dicemooh. Akan tetapi, karena niatnya adalah karena ingin anggun, maka ketika keanggunan itu tidak dikatakan oleh orang lain, ia langsung goyah. Kalau saja Lala niatkan berjilbab itu ikhlas karena Allah semata-mata untuk mendapatkan ridoNya maka Lala pasti kuat menghadapi semua ketidaknyamanan yang dia dapatkan selama berjilbab. Bukankah Allah telah berjanji pada hambaNya… “Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, nescaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari “.
Allah pasti akan menolong hambaNya yang telah rela dan ikhlas menjalankan syariatNya InsyaAllah jika kita berbuat diniatkan ikhlas karena Allah, tidak mengharap pujian manusia maka kita akan kuat menghadapi setiap masalah yang dihadapi dan menganggap masalah itu sebagai ujian hidup yang harus dilalui dengan sabar.
Kedua, cara yang benar. Niat yang benar harus disertai cara melakukan perbuatan secara benar. Maksud benar adalah sesuai syariat Allah. Niat benar tetapi cara salah, maka amal itu pasti ditolak Allah. Misalnya, ada seorang ayah yang ingin menafkahi keluarganya. Ini niat yang benar. Akan tetapi, jika ia mencari nafkah dengan berjudi, ia akan berdosa. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan perintah kami(Allah dan RasulNya), maka amalan itu tertolak.” Hadis riwayat Muslim
Dengan demikian, ketika hendak melakukan sesuatu, seharusnya kita mencari tahu terlebih dahulu apakah perbuatan yang akan kita lakukan itu sesuai syariat Islam. Proses mancari tahu ini bukan perkara yang sederhana. Dibutuhkan pengetahuan tentang ajaran agama Islam. Oleh karena itu, kita setiap muslim harus meluangkan waktunya untuk belajar tsaqofah Islam (ilmu pengetahuan Islam). Berbagai cara dan sarana bisa dipakai. Misalnya, membaca buku, majalah, situs internet (misalnya Syariah Publications – red), mendengarkan ceramah agama di radio, televisi, mengikuti forum pengajian, dan lain sebagainya. Sesibuk apapun seseorang, ia harus belajar Islam. InsyaAllah dengan bekal ilmu agama yang kita miliki, kita tidak akan tersesat dalam bertindak…
Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi niat dan perbuatan kita. Amin.
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb
*Penulis pernah kuliah di Yogyakarta. Lulus awal tahun 2000. Sekarang menemani suaminya yang menempuh kuliah S3 di Tokyo, Jepang.







11 April 2008 pukul 6:54 pm
Hmmm memang sulit… ketika niatan baik dilakukan… saya punya pendapat… kalau gak keberatan buka di “seragam jilbab” saya taruh di
http://maaini.wordpress.com/2008/04/11/seragam-jilbab/
Mudah-mudahan bermanfaat
23 Januari 2010 pukul 2:39 am
I can’t think of a more appropriate time and place to begin a good piece of science literature… snow on the ground… my faithful dog at my feet, bathed in the warmth of the yule time log in the fireplace.
I am looking forward to visiting this forum regularly.
9 Maret 2010 pukul 6:16 pm
ketika kita memulai sesuatu yang baik dan itu dalam rangka beribadah kepada allah Swt, yakin dan percaya tidak akan ada kesusahan didalamnya. kalaupun ada, maka adalah ujian yang akan membuat kita tetap kuat dan mengajarkan kita kedewasaan. tidak mudah meraih ridhoNya,,maka pengorbanan itu, peluh kita akan menjadi mutiara-mutiara yang akan terpancar dari dalam diri kita sehingga mata orangorang yang suka mencela itu akan membelalak melihatnya. jangan takut akan celaan manusia,sebaliknya kita harus takut akan celaan Allah. tetap Zmangat untuk para kaum perempuan,,,hidup akhwat…he.he.he…